Desa Sempe,
Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa, terletak di bawah Gunung Batu Lanteh. Terisolir dari jalan aspal. Untuk ke sini, harus melalui jalan menanjak pebuh batu, pasir, dan tanah merah.
Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa, terletak di bawah Gunung Batu Lanteh. Terisolir dari jalan aspal. Untuk ke sini, harus melalui jalan menanjak pebuh batu, pasir, dan tanah merah.
Mayoritas profesi
warganya adalah bertani. Selain sayuran, di luar masa tanam, mereka juga
memanen madu untuk tambahan penghasilan.
Bagi pemuda Desa
Sempe, mencari madu sudah menjadi tradisi. Seperti yang dilakoni Abdul Walid,
kala usianya 15 tahun –bersama sang paman ia mencari sarang lebah. Dari
pamannya itulah, Walid belia belajar bagaimana memanen madu.
“Sampai saya
menginap bersama paman di hutan demi hasilkan (madu) untuk keperluan belanja
sehari-hari,” kenang Walid.
Hasil mencari madu,
dijual ke pengepul. Jika tak ada pengepul, maka madu dibiarkan begitu saja.
Kalaupun dibeli, harganya murah. Sebotol madu cuma dihargai Rp 50 ribu.
Sampai kemudian
ketika SMA, Walid berkawan dengan anak seorang pengusaha madu. Dia sering ke
rumah temannya di Sumbawa Barat. Perlahan dia belajar mengenal bisnis madu.
“Saya sering diajak
ke rumahnya. Di situ diajak bantu pasang-pasang label. Terus di situ saya
berpikir, loh kenapa Sempe enggak bisa?”
Waktu itu, usia
Walid beranjak 19 tahun dan menjajal jadi pengusaha madu asli Sumbawa. Sebab ia
resah, melihat di Sumbawa Barat banyak orang mengeruk keuntungan besar dari
madu. Mereka punya merek sendiri, tidak dijual ke pengepul seperti yang desanya
lakukan. Produk itu lantas punya identitas dan dicari orang. Dia pun berpikir,
mengapa Sempe tidak bisa menjual madu dengan nama sendiri?
“Kenapa ada sumber
daya alam tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya? Di kampung saya belum ada yang
memanfaatkan (madu). Tahunya menjual ke pengepul di Sumbawa,”
Berbekal modal
nekat, Walid lantas membawa sepuluh jerigen madu dari desanya ke Sumbawa untuk
dijual. Meski tak punya pasar, tapi tak membuatnya habis akal. Ia lantas
memanfaatkan media sosial Facebook. Dua minggu diiklankan, madunya tetap tak
dilirik pembeli.
“Lumayan lama
(terjualnya). Sampai saya jenuh. Apa saya bisa mengembalikan modal? Sampai
harga terendah saya coba jual.”
Hingga dia bertemu
Kepala Dinas Kehutanan. Olehnya, Walid disarankan membentuk kelompok tani dan
membuat merek sendiri. Dia kemudian mendekati para petani madu di desanya, berusaha
meyakinkan mereka untuk tidak menjual madu ke pengepul.
Madu-madu itu ia
kemas sendiri. Ia namai produknya MAS –Madu Asli Sumbawa. Produknya lantas
diikutkan dalam pameran di Jakarta. Sejak itulah pintu usahanya terbuka. Kini
Walid bisa menjual hampir 2 ton madu per tahun.
“Seratus botol saya
bawa ke Sumbawa, enggak sampai tiga hari produk (MAS) sudah habis. Sekarang
madu MAS sudah sampai Jakarta, Bandung, Alor, Bali.”
Usai dari pameran,
usahanya lantas dilirik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbawa serta
Jaringan Madu Hutan Sumbawa. Walid diajak bergabung dengan JMHS. Ia kerap
mengikuti pelatihan dan cara berbisnis.
“Supaya madu tidak
cepat rusak, kadar airnya rendah. Lalu harus pakai sarung tangan, karena kalau
pakai tangan, bakteri akan mencemari madu,” jelas Walid.
Ilmu yang dia dapat
ia ditularkan pada 40 petani binaannya. Mereka inilah yang setiap kali panen
memasok madu untuk produk MAS. Walid memberlakukan sistem bagi hasil dengan
para pencari madu. Satu botol berukuran 1,5 liter dibeli dengan harga Rp100 ribu. Setiap tahunnya juga, Walid memberikan bonus kepada para petani tapi itu
bergantung seberapa banyak madu yang dijual.
“Para petani kini
tidak lagi kesusahan menjual produk madu. Ketika panen, enggak perlu ke
pengepul. Karena saya siap menampung dan saya akan terima dalam bentuk apapun,”
ucapnya bangga.
Kini, para petani
madu binaan Walid juga menjual madu beserta sarangnya. Satu dari 40 petani yang
bergabung dengan Walid adalah Hijir.
“Kami menjual
(madu) harganya enggak tetap. Tergantung antara penjual dan pembeli. Kalau
sekarang, kami tetap setor ke ketua kelompok kami,” pungkas Hijir.
Petani madu
lainnya, Satri Mochlis, mengatakan sosok Walid dikenal tangguh karena berhasil
mengajak para pemuda Desa Sempe ikut bergerak.






